Pagi berbalut embun.
Hari ini Cici bersama Anto bergegas masuk ruang 10. Anak-anak yang masih gaduh segera mengikuti, masuk ke ruang. Ya, hari itu hari ulangan kenaikan kelas di SMK Kedunggalih. Ada 36 orang siswa di situ, 18 siswa kelas X dan 18 siswa kelas XI. Di luar, butiran embun masih membasah di daun anthurium.
"Selamat pagi, semua", Cici membuka dengan salam. Senyumnya mengembang.
"Pagi", terdengar beberapa yang menjawab.
"Hari ini kelas X mengerjakan soal Matematika, kelas XI soal Bahasa Inggris, namun sebelum mengerjakan, kita ikuti doa bersama dulu"
Doa yang dibacakan melalui loudspeaker segera terdengar dan semua menundukkan kepala, mengikuti dengan khidmat, walau sedikit terganggu oleh bunyi bel otomatis yang terprogram dengan komputer.
Setelah membagi soal dan lembar jawab di ruang tes, Cici dan Anto harus segera mengisi tiga lembar berita acara dan tiga lembar data peserta ulangan kenaikan kelas itu. "Wah, banyak sekali yang harus diisi", keluh Anto. Dia mengambil selembar, mengisinya, melihat ke arah siswa, menghitung, dan menulis lagi. Setelah selesai selembar, segera mengambil lembar lainnya. Sejurus, pandangannya beralih mengarah ke Cici. (Bersambung).
Hari ini Cici bersama Anto bergegas masuk ruang 10. Anak-anak yang masih gaduh segera mengikuti, masuk ke ruang. Ya, hari itu hari ulangan kenaikan kelas di SMK Kedunggalih. Ada 36 orang siswa di situ, 18 siswa kelas X dan 18 siswa kelas XI. Di luar, butiran embun masih membasah di daun anthurium.
"Selamat pagi, semua", Cici membuka dengan salam. Senyumnya mengembang.
"Pagi", terdengar beberapa yang menjawab.
"Hari ini kelas X mengerjakan soal Matematika, kelas XI soal Bahasa Inggris, namun sebelum mengerjakan, kita ikuti doa bersama dulu"
Doa yang dibacakan melalui loudspeaker segera terdengar dan semua menundukkan kepala, mengikuti dengan khidmat, walau sedikit terganggu oleh bunyi bel otomatis yang terprogram dengan komputer.
Setelah membagi soal dan lembar jawab di ruang tes, Cici dan Anto harus segera mengisi tiga lembar berita acara dan tiga lembar data peserta ulangan kenaikan kelas itu. "Wah, banyak sekali yang harus diisi", keluh Anto. Dia mengambil selembar, mengisinya, melihat ke arah siswa, menghitung, dan menulis lagi. Setelah selesai selembar, segera mengambil lembar lainnya. Sejurus, pandangannya beralih mengarah ke Cici. (Bersambung).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar