Translate

Selasa, 22 Mei 2012

NT


I.
Siang.
Seorang perempuan setengah umur, pemilik warung tepi jalan itu menguap panjang. Matanya cekung, badannya kurus, pertanda hidupnya serba kekurangan. Udara sangat panas. Diseka keringatnya yang bercucuran dengan ujung kebayanya, sementara hiruk pikuk kendaraan di depannya tak mempedulikannya. Barang dagangannya seperti pisang goreng, balok, tempe goreng dan juadah itu dari pagi tadi masih utuh, tak ada satu pembelipun yang datang. Pisang, mangga, jambu, jeruk yang sudah layu pun ada di sana. Bu Alimah, demikian nama perempuan itu, menghela napas panjang.
Tak henti-hentinya kendaraan lalu lalang di depannya. Lalu lintas demikian ramainya. Telinganya hampir pekak, karena tiap hari jalan itu memang tak pernah sepi. Deru mobil, bel becak, klakson, knalpot sepada motor sampai ketuk sepatu orang berjalan terus mewarnai lalu lintas yang semakin semrawut itu.
“Mmmh… membosankan!”, keluh bu Alimah sambil bangkit dari duduknya. Kerjanya yang hanya duduk menunggu warung itu membuat pinggangnya terasa pegal dan kaku.
Ia sebenarnya sudah lama ingin pindah pekerjaan, tetapi ia tak tahu pekerjaan mana yang harus dipilihnya yang sesuai dengan kemampuannya.
Lima tahun yang lalu, semasa masih hidup bersama suaminya Wiryo, hidupnya boleh dikatakan kecukupan. Hanya saja antara mereka tidak ada kecocokan, sehingga Bu Alimah alias Bu Wiryo tidak tahan lagi. Bu Alimah terpaksa minta cerai untuk mengakhiri pertengkaran-pertengkaran mereka.
Kini Wiryo telah mempunyai isteri baru yang cantik, dan muda pula. Bekas suaminya itu kini telah dapat membeli Honda yang amat bagus yang tidak pernah terbayangkan oleh bu Alimah. Hal ini diketahuinya sendiri sebulan yang lalu.
Seperti biasanya, waktu itu ia duduk menjaga warungnya. Sebuah Honda merah yang dinaiki sepasang suami isteri berhenti, mapir ke warungnya. Tiba-tiba bu Alimah terkesiap, jantungnya berdebar kencang. Laki-laki itu ternyata bekas suaminya! Ia terpaku. Karena tak dapat menguasai perasaannya, ia jatuh pingsan! Pak Wiryo terpana. Ia tidak tahu kalau bekas isterinya itu telah pindah di kota ini sebagai penjual makanan. Maka dengan segera diseretnya isteri barunya yang masih bengong itu, kabur!
Untunglah, beberapa menit kemudian datanglah seorang tetangganya yang bermaksud membeli kerupuk di warungnya. Melihat bu Alimah terbaring di lantai, segera ditolongnya hingga siuman kembali.
***
Seorang gadis berjalan lunglai. Cantik tidak, manispun tidak. Walau begitu sulit juga bila dikatakan jelek. Bibirnya biru, tetapi asli. Sebuah jerawat batu yang kemerah-merahan menghiasi pipinya. Kulitnya yang hitam, semakin hitam terbakar matahari yang bersinar garang itu. Ia mengenakan hem putih dan rok abu-abu, seragam sekolahnya. Rupanya ia baru pulang dari sekolah. Di pundaknya tergantung tas coklat yang berisi buku2 pelajaran. Siapa itu? Namanya cukup pendek: Sri Intan, anak janda Alimah pemilik warung tepi jalan itu.
“Sri!” terdengar seseorang memanggil namanya. Sri Intan tak mendengar. Ia berjalan terus.
“Sri! Sri Intan!”
Sri Intan menoleh.
“Oh kau, Joko,” katanya sambil menghentikan langkahnya, “kau bolos ya?”
Joko tertawa.
“Yah… terpaksa!”
“Kok terpaksa?”
“Aku mesti kerja untuk menghidupi diriku dan adik-adikku yang jumlahnya empat orang itu Sri. Kau tahu bukan, orang tuaku seminggu yang lalu meninggal karena kecelakaan?”
Keduanya berjalan bersama.
“Aku mencoba bekerja dengan…. Menarik becak! Tak apa-apa toh? Asal halal, prinsipku. Bukankah begitu, Sri?
Sri Intan tersenyum.
“Betul. Tapi bila kau membolos, itu tidak betul!”
Diam sejenak.
“Memang tidak betul Sri. Sebenarnya tadi aku sudah mau kirim surat ijin pada pak Guru, tetapi tak tahu alasan apa yang mesti kukemukakan”
“Seharusnya kau katakana apa adanya. Jujur saja.”
“Yah! Seharusnya begitu. Tapi aku malu”
“Seharusnya kau tak perlu malu.”
Keduanya berjalan terus. Sri Intan mengayun-ayunkan tasnya.
“Hmmmm… sekarang apa maumu?”
“Pinjam semua buku catatanmu hari ini. Boleh kan?”
Sri Intan diam.
“Lantas belajarku bagaimana? Besuk pagi ulangan PMP”
“Ah. Itu bukan masalah. Nanti sore ku kembalikan”
“Tapi catatannya banyak Ko. Kau pasti tak dapat menyelesaikan nanti sore.”
“Aku pasti dapat menyelesaikannya, aku akan suruh adik-adikku untuk membantu mencatatnya. Okey?
Sri Intan mengeluarkan semua bukunya dan diberikannya kepada Joko.
“Nih!”
Joko menghitung buku-buku yang diberikan oleh Sri Intan itu dan membuka-bukanya.
“Yang buku cetak tak usah Sri” katanya sambil memberikannya kepada Sri Intan.
Sampai pertigaan mereka berpisah. Sri Intan belok kiri, dan Joko belok kanan.
“Daaag…! Kata Joko sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Daag..!”
***
Pagi itu cuaca cerah. Udara segar.
Sesudah mandi, badan Sri Intan terasa segar kembali. Disiapkan buku-buku yang akan dibawa ke sekolah di atas meja.
“Ibu…!” panggilnya
Bu Alimah, ibunya, sedang bekerja di dapur menggoreng makanan yang bakal dijual diwarungnya sendiri itu.
            “Sri…! Ganti ibunya yang memanggil. Sri Intan berjalan ke dapur.
            “Anak tidak boleh panggil-panggil sama orang tua, tahu?”
Wajah Sri Intan cemberut.
            “Ada [erlu apa hah?”
            “SPP. Uang SPP harus dilunasi hari ini bu”
“Tanggal berapa sekarang?
“Sembilan.”
“Nah, baru tanggal sembilan kan? Kalau besuk saja bagaimana? Ibu tak punya uang Sri”
“Ibu maunya terlambaaat terus. Bulan kemarin Sri bayar SPP tanggal dua belas, bulan kemarinnya lagi, tanggal tiga belas, kemarinnya lagi tanggal empat belas. Apa tidak malu bu?”
Bu Alimah tersentak.
            “ Kalau memang ada uang, tanggal satu pun ibu tak keberatan Sri”
            “Tapi Ibu selalu tak punya uang!” keluh Sri Intan.
Bu Alimah mendekati anaknya. Dipegangnya kedua pundak Sri Intan.
“Ibu sudah berusaha mati-matian Sri. Kau harus tahu. Membuka warung kecil-kecilan ini memang hasilnya tak seberapa. Hanya cukup untuk makan!”
Sri Intan mematung, matanya berkaca-kaca.
“Aaah… andaikan ibu tdk cerai tentu….”
“Sri!” kata ibunya, memotong perkataan Sri Intan.
“Jangan kau ungkit-ungkit kejadian itu! Ini  sudah nasib kita…”
Bu Alimah menghela napas.
“Maafkan ibumu Sri, tak dapat mencukupi semua kebutuhan hidupmu. Barangkali kau ingin ikut ayahmu?”
Pipi Sri Intan basah.
“Tidak bu, sama sekali tidak. Mafkan Sri Intan bu” isak Sri Intan seraya menjatuhkan kepalanya ke pangkuan ibunya, “Sri hanya ingin uang agar SPP dapat segera terlunasi…”
Bu Alimah membelai rambut Sri Intan.
“Sudah iu katakan. Ibu tak punya uang.”
“Lalu kapan ibu akan mempunyainya?”
“Ibu tak tahu. Tapi yang jelas, besuk pagi pasti tersedia uang untuk melunasi SPPmu. Ibu akan pinjam pada pak Broto tukang kredit keliling itu” kata bu Alimah. Hati Sri Intan sedikit lega.
“Betul bu?”
Bu Alimah mengangguk.
“Terima kasih” kata Sri Intan lagi.
Bu Alimah tersenyum, Sri Intan tersenyum.
“Sri berangkat ya bu!” kata Sri sambil berlari keluar rumah. Bu Alimah melambai-lambaikan tangannya.
***
Siang itu pak Broto benar2 lewat di depan warung bu Alimah.
“Pak Broto!” panggil bu Alimah.
PalkBroto turun dari sepedanya. Topi yang menutupi kepalanya yang botak itu dibukanya.
“Ada apa bu? Pinjam uang kan?”
Bu Alimah mengangguk, tersenyum.
“Silakan masuk pak!”
“Terima kasih!”
Pak Broto memasuki warung yang sekaligus rumah bu Alimah itu.
“Kalau pak Broto tidak berkeberatan, saya bermaksud pinjam uang seribu rupiah saja buat bayar SPP anak saya”
Pak Broto tertawa lebar. Giginya yang hamper semuanya emas itu tampak semua.
“Tentu saja tidak bu” katanya seraya mengambil tas kopernya.
“Tapi ingat bu,” lanjut pak Broto, “jangan lupa bunganya.”
“Ah tentu pak!”
“Ibu boleh pilih salah satu diantara tiga aturan yang saya buat”
Bu Alimah mengangguk-angguk.
“Aturan yang pertama ialah tiap hari harus mengangsur sebanyak Rp 50 selama 1 bulan.”
“Aturan yang kedua ialah harus membayar kontan Rp 1250 satu minggu berikutnya.” katanya kemudian
Bu Alimah menelan ludah. Tukang rente yang satu ini memang memasang bunga sangat tinggi, mencekik leher.
“Aturan yang ketiga?”
“Aturan yang ketiga ialah harus pakai jaminan”
“Jaminan?”
“Ya. Jaminan itu sama dengan tanggungan, sama dengan borg.”
Mata bu Alimah berkedip-kedip.
“Apa jaminannya?”
“Jaminannya adalah uang sebanyak seribu lima ratus rupiah, tanpa bunga. Ha haaha….! Katanya sambil tertawa berderai-derai. Bu Alimah tersenyum.
“Jangan bergurau ah! Mau pinjam uang kok pakai jaminan uang, aneh!”
“Haha haha …”
“Kalau sudah punya uang seribu lima ratus, masak mau pinjam uang seribu. Nggak lucu!”
“Ha ha ha ha…”
“Saya mau pinjam uang kan karena nggak punya uang untuk bayar SPP anak saya. Kalau sudah punya buat apa bapak saya panggil kemari….”
Pak Broto masih saja tertawa.
“Begini….! Katanya, “maksud saya, jika ibu punya barang yang seharga seribu lima ratus rupiah atau lebih, saya ambil untuk jaminan hutang itu…”
Hati bu alimah lega.
“Nah.. gitu. Buat bingung orang saja…!”
Pak Broto mengelus-elus jenggotnya yang lebat itu.
“Saya pilih aturan yang pertama saja pak. Tapi saya usul agar besar angsuran diturunkan. Rp 40,- saja bagaimana?’
Pak Broto mengerutkan keningnya,
“Nggak bisa ….!”
“Lima puluh rupiah terlalu tinggi pak…!”
“Ah, tidak.”
“Terlalu tinggi”
Pak Broto diam.
“Sehari ibu dapat untung berapa?”
“Tak pasti Pak. Kurang lebih tiga ratus rupiah, tapi habis untuk makan”
“Ah masak. Lalu lintas begini ramai Cuma untuk sebesar itu?”
“Betul!” kata bu Alimah bersungguh-sungguh.
Sepi sesaat.
“Baiklah kalau begitu. Demi kemanusiaan!”
Bu Alimah gembira, ternyata rente itu juga punya rasa kemanusiaan.
“Terima kasih Pak” kata bu Alimah sambil menerima uang yang diberikan Pak Broto kepadanya.
Pak Broto beridiri dan menjinjing tas kopernya. “Saya pergi dulu ya, tiap pukul 10.00 saya akan kemari selama sebulan. Untuk itu siapkan uang angsuranmu itu ya?”
“Baiklah Pak. Mulai kapan saya harus membayar angsurannya?”
“Besok Pagi!”
***
II
Hidup tak dapat dipisahkan dengan uang. Itu jelas. Tak dapat dibantah lagi. Sejak manusia mengenal uang, mau tak mau seluruh hidupnya dikuasai uang.
“Minta uang bu!” itu rengek Sri Intan setiap kali kepada ibunya. Dan ibunyapun akan menjawab “Uang. Lagi lagi uang. Untuk apa hah? Ibu tak punya uang” Kalau sudah demikian Sri Intan akan ngambeg atau nangis atau marah-marah pada ibunya yang miskin itu.
Hari itu Sri Intan mendapat undangan dari Rita, teman sekelasnya. Seminggu lagi akan mengadakan pesta ulang tahun. Pulang sekolah tanpa ganti baju Sri sudah menrengek-rengek minta uang pada ibunya.
“Buat apa sih?” tanya ibunya.
“Rita mau ulang tahun Bu. Jadi Sri harus beli kado untuknya.”
Bu Alimah pusing. Hutangnya pada Pak Broto saja belum terlunasi, anak satu-satunya itu sudah minta uang lagi.
“Ibu harus bagaimana Sri? Ibu tak pernah punya uang!”
Sri tak peduli.
“Ibu tidak bohong kan?”
“Mana mungkin membohongi aanaknya sendiri!”
“Mungkin saja” ujar Sri sambil mengucek-ucek ujung hemnya.
“Begini bu, lanjut Sri,” kalau ibu benar2 tak punya uang, kan masih punya…”
“Punya apa hah?”
Sri memainkan bola matanya. Kekiri, kekanan,keatas
“Punya apa hah?” ulang ibunya.
“Itu!”
“Apa?”
“Kalung ibu! Dijual saja bu!”
Bu Alimah terkejut. Selamanya tak terpikir olehnya untuk menjual kalung yang dipakainya itu. Kalung itu pemberian bekas suaminya, P Wiryo ketika belum bercerai delapan tahun yang lalu.
Waktu itu P Wiryo pulang dari kantor dengan senyum-senyum. Di tangannya membawa bungkusan kecil. Bu Alimah yang melihatnya cepat merampas bungkusan itu. Pak Wiryo tertawa. Bu Alimah melonjak kegirangan setelah bungkusan itu dibukanya. Ya. Isinya sebuah kalung rantai dua puluh dua karat lengkap dengan liontinnya yang sampai kini masih tergantung di leher bu Alimah itu.
“Ibu mau kan?” kata Sri Intan membuyarkan lamunan ibunya.
Bu Alimah mencucurkan air matanya. Ada kontradiksi dalam hatinya.
“Mau?” ulang Sri Intan.
Bu Alimah diam. Air matanya makin deras.
“Lho, ibu menangis?”
Bu Alimah tetap diam.
“Kalau masih sayang sama kalung itu, baiklah. Sri tidak memaksa, bu. Itu berarti ibu masih …” Sri tak melanjutkan perkataannya. Ia sebetulnya ingin mengatakan … “masih sayang pada ayah” tapi perkataan itu ditelannya. Ia tak berani berkata itu pada ibunya.
Bu Alimah menahan nafas. Ia tahu kata-kata anaknya itu, tapi ia tak tahu mesti berbuat apa.
“Ibu sediakan saja uang seribu lima ratus rupiah hari Sabtu besuk. Ulang tahun Rita akan diadakan Minggu sore!” kata Sri lagi.
Ia berjalan menuju kamarnya, meninggalkan ibunya.
***
Sudah hampir tiga jam Joko mangkal di terminal bus itu. Keadaan tempat itu memang tak sepi. Orang-orang yang turun dari bus, yang mau naik bus, pedagang kecil banyak yang berada disitu.
Joko tak tahu, mengapa sejak berada di situ belum ada orang yang minta diantarkan dengan becaknya.
“Neng… mau kemana? Mari kuantar” kata Joko seraya mengangkat roda belakang becaknya pada gadis yang baru turun dari bus.
“Eh … maaf. Saya mau jalan saja. Dekat kok!”
Gadis itu berlalu. Tak mempedulikan kata-kata Joko yang terus minta agar gadis itu mau diantarkannya.
“Ke Pasar berapa dik?” seorang laki-laki berkaca mata bertanya padanya.
“Tiga ratus! Jawab Joko.
Ia sengaja memasang tarip yang mahal karena ia ingin agar segera mendapat banyak uang.
Laki-laki tadi diam. Seperti sedang berpikir.
“Saya saja bang. Murang! Seratus lima puluh” tawar penarik becak lain yang ada di dekat Joko. Tanpa berkata apa-apa, laki-laki it uterus naik pada becak orang yang menawarkan separoh harga dari harga yang dipasang Joko itu.
Tentu saja Joko marah bukan kepalang.
“He bang! Seratus rupiah saja bang!” teriak Joko pada laki-laki itu. Tetapi becak terus melaju. Dalam hati Joko mengumpat-umpat penarik becak yang “merampas” hartanya itu.
“Beginilah nasib orang serakah” keluh Joko lirih.
“Mari kuantarkan! Tawar Joko lagi pada segerombolan orang yang baru turun dari bus.
“Nggak ah. Mau naik colt kampus saja” ujar yang satu
“Saya mau jalan saja”
“Saya mau naik dokar”
“Saya mau naik helicak”
“Saya mau naik taksi” ujar yang lain.
Joko kesal.
“Hmh… itu itu saja jawabannya. Mau naik ini, itu, mau jalan saja, hmmh!” gerutu Joko.
“Kenapa mereka nggak pilih naik kappa atau kereta api saja!”
Joko lunglai. Perutnya lapar bukan buatan. Sepotong ketela yang dimakannya pagi tadi tak mampu menahan laparnya samapi siang.
“He Joko!” kata seseorang sambil menepuk pundak Joko dari belakang. Joko terkejut, tetapi senang.
“Antarkan aku ke sekolah” kata orang itu yang ternyata kawan Joko sewaktu di SD. Joko memanggilnya “Kelik”
“SMP Muhammadiyah kan?” Tanya Joko sambil memutar arah becaknya. Kelik mengangguk.
Becak melaju.
“Kau kini kelas III ya Ko? kata Kelik, “aku baru kelas II!”
“Ha?”
“Sebab aku pernah nggak naik! Kebodohan saya dari dulu tak pernah hilang-hilang!”
“Ah masa!”
“Betul Ko. Taportku dapat untuk mencegat K A!. Habis, merah semua!”
“Ha ha ha …” mereka berdua tertawa.
“Raportku kebakaran!”
“Hahaha…”
Sepi sesaat. Nafas Joko terengah-engah. Keringatnya bercucuran.
“Kalau lelah gantian Ko!” kata Kelik.
“Maksudmu?”
“Aku ganti yang genjot, kau duduk disini!”
“Ha?”
“Mau kan?”
“Tak usyah!”
Joko terus mengayuh becaknya.
“Tak perlu cepat Ko. Hati-hati”
“Kau turun di mana Lik?” tanya Joko setelah dekat dengan sekolah Kelik itu.
“Dekat pohon Kamboja”
Becak berhenti. Kelik merogoh sakunya. “Nih untuk obat lelah” katanya.
“Ma kasih!”
Joko memutar becaknya.
“Sampai jumpa!”
***
[ ditulis tahun 1980an, neny mariani suhardiyah ]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar