I.
Siang.
Seorang
perempuan setengah umur, pemilik warung tepi jalan itu menguap panjang. Matanya
cekung, badannya kurus, pertanda hidupnya serba kekurangan. Udara sangat panas.
Diseka keringatnya yang bercucuran dengan ujung kebayanya, sementara hiruk
pikuk kendaraan di depannya tak mempedulikannya. Barang dagangannya seperti
pisang goreng, balok, tempe goreng dan juadah itu dari pagi tadi masih utuh,
tak ada satu pembelipun yang datang. Pisang, mangga, jambu, jeruk yang sudah
layu pun ada di sana. Bu Alimah, demikian nama perempuan itu, menghela napas
panjang.
Tak
henti-hentinya kendaraan lalu lalang di depannya. Lalu lintas demikian
ramainya. Telinganya hampir pekak, karena tiap hari jalan itu memang tak pernah
sepi. Deru mobil, bel becak, klakson, knalpot sepada motor sampai ketuk sepatu
orang berjalan terus mewarnai lalu lintas yang semakin semrawut itu.
“Mmmh…
membosankan!”, keluh bu Alimah sambil bangkit dari duduknya. Kerjanya yang
hanya duduk menunggu warung itu membuat pinggangnya terasa pegal dan kaku.
Ia
sebenarnya sudah lama ingin pindah pekerjaan, tetapi ia tak tahu pekerjaan mana
yang harus dipilihnya yang sesuai dengan kemampuannya.
Lima
tahun yang lalu, semasa masih hidup bersama suaminya Wiryo, hidupnya boleh
dikatakan kecukupan. Hanya saja antara mereka tidak ada kecocokan, sehingga Bu
Alimah alias Bu Wiryo tidak tahan lagi. Bu Alimah terpaksa minta cerai untuk
mengakhiri pertengkaran-pertengkaran mereka.
Kini
Wiryo telah mempunyai isteri baru yang cantik, dan muda pula. Bekas suaminya
itu kini telah dapat membeli Honda yang amat bagus yang tidak pernah
terbayangkan oleh bu Alimah. Hal ini diketahuinya sendiri sebulan yang lalu.
Seperti
biasanya, waktu itu ia duduk menjaga warungnya. Sebuah Honda merah yang dinaiki
sepasang suami isteri berhenti, mapir ke warungnya. Tiba-tiba bu Alimah
terkesiap, jantungnya berdebar kencang. Laki-laki itu ternyata bekas suaminya!
Ia terpaku. Karena tak dapat menguasai perasaannya, ia jatuh pingsan! Pak Wiryo
terpana. Ia tidak tahu kalau bekas isterinya itu telah pindah di kota ini
sebagai penjual makanan. Maka dengan segera diseretnya isteri barunya yang
masih bengong itu, kabur!
Untunglah,
beberapa menit kemudian datanglah seorang tetangganya yang bermaksud membeli
kerupuk di warungnya. Melihat bu Alimah terbaring di lantai, segera ditolongnya
hingga siuman kembali.
***
Seorang
gadis berjalan lunglai. Cantik tidak, manispun tidak. Walau begitu sulit juga
bila dikatakan jelek. Bibirnya biru, tetapi asli. Sebuah jerawat batu yang
kemerah-merahan menghiasi pipinya. Kulitnya yang hitam, semakin hitam terbakar
matahari yang bersinar garang itu. Ia mengenakan hem putih dan rok abu-abu,
seragam sekolahnya. Rupanya ia baru pulang dari sekolah. Di pundaknya
tergantung tas coklat yang berisi buku2 pelajaran. Siapa itu? Namanya cukup
pendek: Sri Intan, anak janda Alimah pemilik warung tepi jalan itu.
“Sri!”
terdengar seseorang memanggil namanya. Sri Intan tak mendengar. Ia berjalan
terus.
“Sri!
Sri Intan!”
Sri
Intan menoleh.
“Oh
kau, Joko,” katanya sambil menghentikan langkahnya, “kau bolos ya?”
Joko tertawa.
“Yah…
terpaksa!”
“Kok
terpaksa?”
“Aku
mesti kerja untuk menghidupi diriku dan adik-adikku yang jumlahnya empat orang
itu Sri. Kau tahu bukan, orang tuaku seminggu yang lalu meninggal karena
kecelakaan?”
Keduanya berjalan
bersama.
“Aku
mencoba bekerja dengan…. Menarik becak! Tak apa-apa toh? Asal halal, prinsipku.
Bukankah begitu, Sri?
Sri
Intan tersenyum.
“Betul.
Tapi bila kau membolos, itu tidak betul!”
Diam sejenak.
“Memang
tidak betul Sri. Sebenarnya tadi aku sudah mau kirim surat ijin pada pak Guru,
tetapi tak tahu alasan apa yang mesti kukemukakan”
“Seharusnya
kau katakana apa adanya. Jujur saja.”
“Yah!
Seharusnya begitu. Tapi aku malu”
“Seharusnya
kau tak perlu malu.”
Keduanya
berjalan terus. Sri Intan mengayun-ayunkan tasnya.
“Hmmmm…
sekarang apa maumu?”
“Pinjam
semua buku catatanmu hari ini. Boleh kan?”
Sri
Intan diam.
“Lantas
belajarku bagaimana? Besuk pagi ulangan PMP”
“Ah.
Itu bukan masalah. Nanti sore ku kembalikan”
“Tapi
catatannya banyak Ko. Kau pasti tak dapat menyelesaikan nanti sore.”
“Aku
pasti dapat menyelesaikannya, aku akan suruh adik-adikku untuk membantu
mencatatnya. Okey?
Sri Intan mengeluarkan
semua bukunya dan diberikannya kepada Joko.
“Nih!”
Joko menghitung buku-buku
yang diberikan oleh Sri Intan itu dan membuka-bukanya.
“Yang
buku cetak tak usah Sri” katanya sambil memberikannya kepada Sri Intan.
Sampai pertigaan mereka
berpisah. Sri Intan belok kiri, dan Joko belok kanan.
“Daaag…!
Kata Joko sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Daag..!”
***
Pagi itu cuaca cerah.
Udara segar.
Sesudah mandi, badan Sri
Intan terasa segar kembali. Disiapkan buku-buku yang akan dibawa ke sekolah di
atas meja.
“Ibu…!”
panggilnya
Bu Alimah, ibunya, sedang
bekerja di dapur menggoreng makanan yang bakal dijual diwarungnya sendiri itu.
“Sri…! Ganti ibunya yang memanggil. Sri Intan berjalan ke
dapur.
“Anak tidak boleh panggil-panggil sama orang tua, tahu?”
Wajah Sri Intan cemberut.
“Ada [erlu apa hah?”
“SPP. Uang SPP harus dilunasi hari ini bu”
“Tanggal
berapa sekarang?
“Sembilan.”
“Nah,
baru tanggal sembilan kan? Kalau besuk saja bagaimana? Ibu tak punya uang Sri”
“Ibu
maunya terlambaaat terus. Bulan kemarin Sri bayar SPP tanggal dua belas, bulan
kemarinnya lagi, tanggal tiga belas, kemarinnya lagi tanggal empat belas. Apa
tidak malu bu?”
Bu Alimah tersentak.
“ Kalau memang ada uang, tanggal satu pun ibu tak
keberatan Sri”
“Tapi Ibu selalu tak punya uang!” keluh Sri Intan.
Bu Alimah mendekati
anaknya. Dipegangnya kedua pundak Sri Intan.
“Ibu
sudah berusaha mati-matian Sri. Kau harus tahu. Membuka warung kecil-kecilan
ini memang hasilnya tak seberapa. Hanya cukup untuk makan!”
Sri Intan mematung,
matanya berkaca-kaca.
“Aaah…
andaikan ibu tdk cerai tentu….”
“Sri!”
kata ibunya, memotong perkataan Sri Intan.
“Jangan
kau ungkit-ungkit kejadian itu! Ini
sudah nasib kita…”
Bu Alimah menghela napas.
“Maafkan
ibumu Sri, tak dapat mencukupi semua kebutuhan hidupmu. Barangkali kau ingin
ikut ayahmu?”
Pipi Sri Intan basah.
“Tidak
bu, sama sekali tidak. Mafkan Sri Intan bu” isak Sri Intan seraya menjatuhkan
kepalanya ke pangkuan ibunya, “Sri hanya ingin uang agar SPP dapat segera
terlunasi…”
Bu Alimah membelai rambut
Sri Intan.
“Sudah
iu katakan. Ibu tak punya uang.”
“Lalu
kapan ibu akan mempunyainya?”
“Ibu
tak tahu. Tapi yang jelas, besuk pagi pasti tersedia uang untuk melunasi SPPmu.
Ibu akan pinjam pada pak Broto tukang kredit keliling itu” kata bu Alimah. Hati
Sri Intan sedikit lega.
“Betul
bu?”
Bu Alimah mengangguk.
“Terima
kasih” kata Sri Intan lagi.
Bu Alimah tersenyum, Sri
Intan tersenyum.
“Sri
berangkat ya bu!” kata Sri sambil berlari keluar rumah. Bu Alimah
melambai-lambaikan tangannya.
***
Siang itu pak Broto
benar2 lewat di depan warung bu Alimah.
“Pak
Broto!” panggil bu Alimah.
PalkBroto turun dari
sepedanya. Topi yang menutupi kepalanya yang botak itu dibukanya.
“Ada
apa bu? Pinjam uang kan?”
Bu Alimah mengangguk,
tersenyum.
“Silakan
masuk pak!”
“Terima
kasih!”
Pak Broto memasuki warung
yang sekaligus rumah bu Alimah itu.
“Kalau
pak Broto tidak berkeberatan, saya bermaksud pinjam uang seribu rupiah saja
buat bayar SPP anak saya”
Pak Broto tertawa lebar.
Giginya yang hamper semuanya emas itu tampak semua.
“Tentu
saja tidak bu” katanya seraya mengambil tas kopernya.
“Tapi
ingat bu,” lanjut pak Broto, “jangan lupa bunganya.”
“Ah
tentu pak!”
“Ibu
boleh pilih salah satu diantara tiga aturan yang saya buat”
Bu Alimah
mengangguk-angguk.
“Aturan
yang pertama ialah tiap hari harus mengangsur sebanyak Rp 50 selama 1 bulan.”
“Aturan
yang kedua ialah harus membayar kontan Rp 1250 satu minggu berikutnya.” katanya
kemudian
Bu Alimah menelan ludah.
Tukang rente yang satu ini memang memasang bunga sangat tinggi, mencekik leher.
“Aturan
yang ketiga?”
“Aturan
yang ketiga ialah harus pakai jaminan”
“Jaminan?”
“Ya.
Jaminan itu sama dengan tanggungan, sama dengan borg.”
Mata bu Alimah
berkedip-kedip.
“Apa
jaminannya?”
“Jaminannya
adalah uang sebanyak seribu lima ratus rupiah, tanpa bunga. Ha haaha….! Katanya
sambil tertawa berderai-derai. Bu Alimah tersenyum.
“Jangan
bergurau ah! Mau pinjam uang kok pakai jaminan uang, aneh!”
“Haha
haha …”
“Kalau
sudah punya uang seribu lima ratus, masak mau pinjam uang seribu. Nggak lucu!”
“Ha ha
ha ha…”
“Saya
mau pinjam uang kan karena nggak punya uang untuk bayar SPP anak saya. Kalau
sudah punya buat apa bapak saya panggil kemari….”
Pak Broto masih saja
tertawa.
“Begini….!
Katanya, “maksud saya, jika ibu punya barang yang seharga seribu lima ratus
rupiah atau lebih, saya ambil untuk jaminan hutang itu…”
Hati bu alimah lega.
“Nah..
gitu. Buat bingung orang saja…!”
Pak Broto mengelus-elus
jenggotnya yang lebat itu.
“Saya
pilih aturan yang pertama saja pak. Tapi saya usul agar besar angsuran
diturunkan. Rp 40,- saja bagaimana?’
Pak Broto mengerutkan
keningnya,
“Nggak
bisa ….!”
“Lima
puluh rupiah terlalu tinggi pak…!”
“Ah,
tidak.”
“Terlalu
tinggi”
Pak Broto diam.
“Sehari
ibu dapat untung berapa?”
“Tak
pasti Pak. Kurang lebih tiga ratus rupiah, tapi habis untuk makan”
“Ah
masak. Lalu lintas begini ramai Cuma untuk sebesar itu?”
“Betul!”
kata bu Alimah bersungguh-sungguh.
Sepi sesaat.
“Baiklah
kalau begitu. Demi kemanusiaan!”
Bu Alimah gembira,
ternyata rente itu juga punya rasa kemanusiaan.
“Terima
kasih Pak” kata bu Alimah sambil menerima uang yang diberikan Pak Broto
kepadanya.
Pak Broto beridiri dan
menjinjing tas kopernya. “Saya pergi dulu ya, tiap pukul 10.00 saya akan kemari
selama sebulan. Untuk itu siapkan uang angsuranmu itu ya?”
“Baiklah
Pak. Mulai kapan saya harus membayar angsurannya?”
“Besok
Pagi!”
***
II
Hidup tak dapat
dipisahkan dengan uang. Itu jelas. Tak dapat dibantah lagi. Sejak manusia
mengenal uang, mau tak mau seluruh hidupnya dikuasai uang.
“Minta
uang bu!” itu rengek Sri Intan setiap kali kepada ibunya. Dan ibunyapun akan
menjawab “Uang. Lagi lagi uang. Untuk apa hah? Ibu tak punya uang” Kalau sudah
demikian Sri Intan akan ngambeg atau nangis atau marah-marah pada ibunya yang
miskin itu.
Hari itu Sri Intan
mendapat undangan dari Rita, teman sekelasnya. Seminggu lagi akan mengadakan
pesta ulang tahun. Pulang sekolah tanpa ganti baju Sri sudah menrengek-rengek
minta uang pada ibunya.
“Buat apa
sih?” tanya ibunya.
“Rita
mau ulang tahun Bu. Jadi Sri harus beli kado untuknya.”
Bu Alimah pusing. Hutangnya
pada Pak Broto saja belum terlunasi, anak satu-satunya itu sudah minta uang
lagi.
“Ibu
harus bagaimana Sri? Ibu tak pernah punya uang!”
Sri tak peduli.
“Ibu
tidak bohong kan?”
“Mana
mungkin membohongi aanaknya sendiri!”
“Mungkin
saja” ujar Sri sambil mengucek-ucek ujung hemnya.
“Begini
bu, lanjut Sri,” kalau ibu benar2 tak punya uang, kan masih punya…”
“Punya
apa hah?”
Sri memainkan bola
matanya. Kekiri, kekanan,keatas
“Punya
apa hah?” ulang ibunya.
“Itu!”
“Apa?”
“Kalung
ibu! Dijual saja bu!”
Bu Alimah terkejut.
Selamanya tak terpikir olehnya untuk menjual kalung yang dipakainya itu. Kalung
itu pemberian bekas suaminya, P Wiryo ketika belum bercerai delapan tahun yang
lalu.
Waktu itu P Wiryo pulang
dari kantor dengan senyum-senyum. Di tangannya membawa bungkusan kecil. Bu
Alimah yang melihatnya cepat merampas bungkusan itu. Pak Wiryo tertawa. Bu
Alimah melonjak kegirangan setelah bungkusan itu dibukanya. Ya. Isinya sebuah
kalung rantai dua puluh dua karat lengkap dengan liontinnya yang sampai kini
masih tergantung di leher bu Alimah itu.
“Ibu
mau kan?” kata Sri Intan membuyarkan lamunan ibunya.
Bu Alimah mencucurkan air
matanya. Ada kontradiksi dalam hatinya.
“Mau?”
ulang Sri Intan.
Bu Alimah diam. Air
matanya makin deras.
“Lho,
ibu menangis?”
Bu Alimah tetap diam.
“Kalau
masih sayang sama kalung itu, baiklah. Sri tidak memaksa, bu. Itu berarti ibu
masih …” Sri tak melanjutkan perkataannya. Ia sebetulnya ingin mengatakan … “masih
sayang pada ayah” tapi perkataan itu ditelannya. Ia tak berani berkata itu pada
ibunya.
Bu Alimah menahan nafas.
Ia tahu kata-kata anaknya itu, tapi ia tak tahu mesti berbuat apa.
“Ibu
sediakan saja uang seribu lima ratus rupiah hari Sabtu besuk. Ulang tahun Rita
akan diadakan Minggu sore!” kata Sri lagi.
Ia berjalan menuju
kamarnya, meninggalkan ibunya.
***
Sudah hampir tiga jam
Joko mangkal di terminal bus itu. Keadaan tempat itu memang tak sepi.
Orang-orang yang turun dari bus, yang mau naik bus, pedagang kecil banyak yang
berada disitu.
Joko tak tahu, mengapa
sejak berada di situ belum ada orang yang minta diantarkan dengan becaknya.
“Neng…
mau kemana? Mari kuantar” kata Joko seraya mengangkat roda belakang becaknya
pada gadis yang baru turun dari bus.
“Eh …
maaf. Saya mau jalan saja. Dekat kok!”
Gadis itu berlalu. Tak mempedulikan
kata-kata Joko yang terus minta agar gadis itu mau diantarkannya.
“Ke
Pasar berapa dik?” seorang laki-laki berkaca mata bertanya padanya.
“Tiga
ratus! Jawab Joko.
Ia sengaja memasang tarip
yang mahal karena ia ingin agar segera mendapat banyak uang.
Laki-laki tadi diam.
Seperti sedang berpikir.
“Saya
saja bang. Murang! Seratus lima puluh” tawar penarik becak lain yang ada di
dekat Joko. Tanpa berkata apa-apa, laki-laki it uterus naik pada becak orang
yang menawarkan separoh harga dari harga yang dipasang Joko itu.
Tentu saja Joko marah
bukan kepalang.
“He
bang! Seratus rupiah saja bang!” teriak Joko pada laki-laki itu. Tetapi becak
terus melaju. Dalam hati Joko mengumpat-umpat penarik becak yang “merampas”
hartanya itu.
“Beginilah
nasib orang serakah” keluh Joko lirih.
“Mari
kuantarkan! Tawar Joko lagi pada segerombolan orang yang baru turun dari bus.
“Nggak
ah. Mau naik colt kampus saja” ujar yang satu
“Saya
mau jalan saja”
“Saya
mau naik dokar”
“Saya
mau naik helicak”
“Saya
mau naik taksi” ujar yang lain.
Joko kesal.
“Hmh…
itu itu saja jawabannya. Mau naik ini, itu, mau jalan saja, hmmh!” gerutu Joko.
“Kenapa
mereka nggak pilih naik kappa atau kereta api saja!”
Joko lunglai. Perutnya
lapar bukan buatan. Sepotong ketela yang dimakannya pagi tadi tak mampu menahan
laparnya samapi siang.
“He
Joko!” kata seseorang sambil menepuk pundak Joko dari belakang. Joko terkejut,
tetapi senang.
“Antarkan
aku ke sekolah” kata orang itu yang ternyata kawan Joko sewaktu di SD. Joko
memanggilnya “Kelik”
“SMP
Muhammadiyah kan?” Tanya Joko sambil memutar arah becaknya. Kelik mengangguk.
Becak melaju.
“Kau
kini kelas III ya Ko? kata Kelik, “aku baru kelas II!”
“Ha?”
“Sebab
aku pernah nggak naik! Kebodohan saya dari dulu tak pernah hilang-hilang!”
“Ah
masa!”
“Betul
Ko. Taportku dapat untuk mencegat K A!. Habis, merah semua!”
“Ha ha
ha …” mereka berdua tertawa.
“Raportku
kebakaran!”
“Hahaha…”
Sepi sesaat. Nafas Joko
terengah-engah. Keringatnya bercucuran.
“Kalau
lelah gantian Ko!” kata Kelik.
“Maksudmu?”
“Aku
ganti yang genjot, kau duduk disini!”
“Ha?”
“Mau
kan?”
“Tak
usyah!”
Joko terus mengayuh
becaknya.
“Tak
perlu cepat Ko. Hati-hati”
“Kau
turun di mana Lik?” tanya Joko setelah dekat dengan sekolah Kelik itu.
“Dekat
pohon Kamboja”
Becak berhenti. Kelik
merogoh sakunya. “Nih untuk obat lelah” katanya.
“Ma
kasih!”
Joko memutar becaknya.
“Sampai
jumpa!”
***
[ ditulis tahun 1980an, neny mariani suhardiyah ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar