Translate

Rabu, 06 Juni 2012

Kontemplasi Perempuan


Pukul  setengah tiga. Aku memandang  seorang perempuan dalam sebuah bingkai  berkaca  memainkan jari-jarinya  menyusuri  dahi dan kepalanya. Terdengar suara beratnya, disahut beberapa satwa merdeka  menjadikan suasana menjelang sore itu  terasa aduhai. Meski tidak sepi, tak satu pun dari suara itu yang berdecak mengagumi wajah yang ia banggakan. Suara  cicak  ck ck ck pun ternyata bukan untuknya. Di belakangnya , 63 puntung  lilin  terserak.  Beberapa diantaranya bahkan meninggalkan sisa jelaga  hitam di atap. Satu yang menyala  adalah  lilin yang ke 64.

Aku  memberanikan diri bertanya, “Apakah engkau gadis kecil penulis buku ‘Seniman Muda’ yang saya jumpai pagi tadi?” Perempuan itu tidak memberi jawaban, tidak mengangguk, tidak menggeleng. Ia terus memainkan jarinya dan sesekali menyisir rambutnya. Seingatku, memang inilah gadis kecil itu. Seingatku, jari-jarinya itulah -- dulu waktu matahari baru saja melesat di langit  -- yang menulis cerita ‘Bunga Kemala Dewi’. Aku yakin, yakin sekali. Ya, meskipun wajahnya telah menyusut, tidak lagi montok, tidak lagi kenyal dan lembab, aku masih mengenalinya. Aku bertanya sekali lagi, “Hai.... bukankah engkau si penulis ‘Bunga  Kemala  Dewi’, penyair ‘Kerikil-kerikil Kecil’  dan ‘Matahari Layu’?”.  Perempuan itu bersiap untuk menjawab, tetapi kali ini ada yang mendorong, menggeser dan mengenyahkanku dari hadapannya.

Aku harus berlari ke halaman memulung baju-bajuku dari tali jemuran untuk menghindarkannya dari guyuran angin yang tiba-tiba bertiup kencang. Baru setengah pekerjaan selesai, aku terhuyun, terayun-ayun.  Sambil merengkuh  dengan tangan kiri baju-baju yang baru saja kuentas, tangan kananku menggapai-gapai, mencoba mencari penopang, tetapi  yang  ada ternyata hanya bayang-bayangku sendiri. Dengan tenaga seadanya, tangan kananku meraih dan memegang erat bayang-bayangku sendiri itu yang jatuh di sebuah pohon pisang. Sementara itu aku menyaksikan beberapa potong seragam dinasku mengapung di udara. “Hai... kembalilah...kembalilah...kembalilah...”, pekikku dalam hati,  tetapi  satu  potong  seragam  tetap  melayang  dan berlalu  dari  pandangan.  Tak  sempat  berlama-lama aku ternganga  dan  meratapi  kaburnya bajuku,  aku  bergegas  masuk.  Setelah  menghempaskan  pakaian-pakaian   itu  di  dipan,  aku segera  beranjak  untuk mencoba  menemui  kembali perempuan di dalam bingkai berkaca itu.  Ah,  ternyata aku gagal  mendapatkannya kembali, karena  kaca telah  buram terkena  serpihan  debu  yang  dihempaskan  angin  tadi.

Kualihkan  pandanganku ke luar,  menyaksikan  kristal-kristal  bening  yang  mulai  turun  dari  langit. Indah sekali.  Aku yang sempat mencibir mega putih,  mencaci awan hitam, dan mencemooh mendung kelabu tak bisa menyembunyikan rasa malu;  dan, mana aku rela membiarkan  kesempatan untuk menikmati  kemewahan  itu berlalu begitu saja. Hidungku tersengat harumnya bau tanah, telingaku terbuai bunyi merdu percikan air, mataku terkesima oleh penampilan lincahnya; dan kesegaran yang ia  bawa benar-benar  membawaku ke suasana yang tak terbeli. “Ah, dunia....,” bisik hatiku lirih, “mengapa engkau terlalu sibuk berkesah dengan ketiadaan, sehingga tak sempat engkau rasakan keberadaan yang menghampirimu?”  “Istirahatlah berkeluh kesah. Sirnakan sejenak kegundahanmu bersama gundahku”. Bersama air hujan menjelang sore itu, aku pun menghanyutkan  semua duka akan melayangnya seragamku dan kegagalan bertemu kembali dengan perempuan di kaca itu.

Aku  memandang  tanah basah. Selama lebih dari 3.120 minggu telah aku saksikan, dengan air itu para petani membolak-balik tanah basah itu hingga terjelma bulir-bulir emas yang merangsang. Selama lebih dari  21.543 hari aku saksikan, dari tanah basah inilah jiwa-jiwa bertumbuh, mulai dari  setinggi lututku,  lalu menjadi sepahaku, sepinggulku, sepinggangku, sebahuku, setelingaku, akhirnya selambaianku. Bila  hujan usai,  aku akan melihat  butir-butir air tadi  akan menyembul lagi  hingga  aku  mendengar suaranya dan melihat geliatnya. Seperti yang sudah-sudah, mereka akan menjelajahi ruang kosongku. Seperti yang sudah-sudah, sebagian dari mereka akan bersandar kepadaku, bukan untuk membebaniku, tetapi untuk menjilati luka-luka jiwaku dan justru membuat tubuh rentaku semakin kuat.

Sepeninggal hujan, masih kudengar bunyi sisa air menetes dari genteng. Aku melangkah ke luar, melenggang di tengah tanah basah yang pelan-pelan berubah menjadi permadani hijau bertaburkan kristal bercahaya. Jangan lupa, aku, dan juga kau, dulu bangkit dari permadani hijau itu. Aku takjub memandang kristal-kristal itu kemudian yang berangsur-angsur menjadi kecambah. Lalu dari kecambah-kecambah tadi ada yang menjelma menjadi pohon beringin, pohon kelapa, pohon kacang, pohon mawar dan rumput ilalang.

Dengan bakiak yang aku beli di Pasar Legi aku menuju jembatan yang tak jauh dari rumah.  Jembatan yang  belum lama dibangun itu terlihat sangat  artistik. Dibangun dengan bambu. Saat  dibangun, banyak yang mempertanyakan kehebatannya, membandingkannya dengan jembatan besi yang sudah ada di sampingnya. Dari  atas  jembatan itu, tak sengaja aku  bertemu kembali dengan perempuan  yang tadi aku jumpai ada di bingkai berkaca.  Dia  ada  dalam  air  sungai di bawahku,  berenang bersama  ikan dan kepiting. Aku memasang kacamataku,  dia pun memasang kacamatanya. Aku   menatapnya  dalam-dalam. Wajahnya yang  tadinya jerawatan berisi keluguan  kini sudah berubah seperti kain polka dot berukir dengan  catatan harian kehidupan. “Ya, akulah penulis yang kau maksud  itu”,  katanya. Lega  aku  mendengarnya. “Dan bukankah kau adalah pohon bunga kaca piring?”, lanjutnya. Kali ini aku tersentak. Dia melihatku sebagai sosok pohon bunga kaca piring di saat aku merasa bahwa aku ini pohon bunga mawar. Burung yang kebetulan melintas di atas  kepalaku tertawa mendengarnya.

Lamunanku  pecah  oleh suara  riuh  anak-anak.  Di tanah  yang becek   berair  itu ada  lima  anak  laki-laki dan  tiga perempuan, yang  setinggi pinggang dan dadaku. Anak-anak  yang segera tumbuh anggun dan perkasa. Mereka  berlompat-lompatan,   saling  dorong satu sama lain.  Bila  ada yang  jatuh,   mereka  terkekeh. Ah, bahagianya mereka,  meski  aku  lihat  sebagian  dari  mereka berkudis....  Ada  juga  yang berdeklamasi  menantang  langit,  “Oh  angin....”, seru  yang satu.  “Oh  bintang...”  seru  yang lain. Dua  anak laki-laki terlihat  memperebutkan  sesuatu dengan  kakinya.  Mungkin  bola, pikirku.  Dari arah  belakang,  tiba-tiba  seorang anak  perempuan  mencoba  meraih  benda yang diperebutkan  itu, dan berhasil! Ia  tertawa  penuh  kemenangan.  Ia  membawanya  lari  benda yang ternyata  gulungan kain itu.  Ia mengembangkan  gulungan itu,  mencoba  memancing  emosi  kedua  temannya  tadi. Aku terpana,  sambil  berseru, “Ya  ampun...  itu  ‘kan baju seragamku?”

Hatiku berkecamuk. Itu salah satu memorabiliaku. Baju kebesaran bersejarah kebanggaanku harus  berakhir  setragis itu?  Aku  maju  bermaksud  mengutarakan  sebuah  kalimat  yang ternyata  harus aku ralat sebelum kusampaikan. Aku mencari  akal bagaimana supaya aku bisa  mendapatkan kembali seragamku itu  tanpa  merusak senyum mereka. Aku berhenti sejenak dan dengan lantang berkata  seraya menempelkan tangan kananku di  dada, “Anak-anak, coba Bu De  pinjam  benda itu sebentar”. “Benda yang mana, Nek?”, salah satu dari  mereka berkata  dengan menyebutku nenek. “Bu  De mau  melihat  benda  yang tadi kau perebutkan”. “Oh,  baju bekas ini,  Nek?” Ah,  ternyata mereka masih menyebutku  nenek. Aku  masih  berusaha untuk bernegosiasi agar  mereka tidak memanggilku nenek,   “Ya,  Bu De ingin melihatnya. Boleh ‘kan?”  sahutku. 

Ya, benar. Tanpa saya  amat-amati, itu seragamku yang kabur sewaktu  ada angin kencang  tadi. “Itu  milik siapa Nek?” tanya anak  perempuan  yang  bernama  Fifi itu.  “Milik  nenek”,  kataku  pendek,  seraya menyerah membiarkan mereka memanggilku nenek.
            “Itu  ‘kan seragam kerja?  Nenek  ‘kan tidak bekerja? Apa  bukti baju  itu  milik  nenek?”
            “Saya temukan baju itu di selokan, bukan di pekarangan nenek”

Dengan  isyarat aku  mengajak  mereka  datang  ke  rumah. Rumah yang menurutku amat megah, karena dibangun dengan bermutu. Aku mengambil laptop  tuaku  yang kubeli lima belas tahun  yang  lalu,  yang bila kupakai mengetik,  huruf  yang dihasilkan  meloncat-loncat. Aku bermaksud  menunjukkan foto-fotoku  yang  kusimpan rapi di laptop  itu.

                                                                                           15 Oktober 2010
                                                                                            neny mariani suhardiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar