Pukul setengah tiga. Aku memandang seorang perempuan dalam sebuah bingkai berkaca memainkan jari-jarinya menyusuri dahi dan kepalanya. Terdengar suara beratnya, disahut beberapa satwa merdeka menjadikan suasana menjelang sore itu terasa aduhai. Meski tidak sepi, tak satu pun dari suara itu yang berdecak mengagumi wajah yang ia banggakan. Suara cicak ck ck ck pun ternyata bukan untuknya. Di belakangnya , 63 puntung lilin terserak. Beberapa diantaranya bahkan meninggalkan sisa jelaga hitam di atap. Satu yang menyala adalah lilin yang ke 64.
Aku memberanikan diri bertanya, “Apakah engkau
gadis kecil penulis buku ‘Seniman Muda’ yang saya jumpai pagi tadi?” Perempuan
itu tidak memberi jawaban, tidak mengangguk, tidak menggeleng. Ia terus
memainkan jarinya dan sesekali menyisir rambutnya. Seingatku, memang inilah
gadis kecil itu. Seingatku, jari-jarinya itulah -- dulu waktu matahari baru
saja melesat di langit -- yang menulis cerita
‘Bunga Kemala Dewi’. Aku yakin, yakin sekali. Ya, meskipun wajahnya telah menyusut,
tidak lagi montok, tidak lagi kenyal dan lembab, aku masih mengenalinya. Aku
bertanya sekali lagi, “Hai.... bukankah engkau si penulis ‘Bunga Kemala
Dewi’, penyair ‘Kerikil-kerikil Kecil’
dan ‘Matahari Layu’?”. Perempuan
itu bersiap untuk menjawab, tetapi kali ini ada yang mendorong, menggeser dan
mengenyahkanku dari hadapannya.
Aku harus
berlari ke halaman memulung baju-bajuku dari tali jemuran untuk
menghindarkannya dari guyuran angin yang tiba-tiba bertiup kencang. Baru
setengah pekerjaan selesai, aku terhuyun, terayun-ayun. Sambil merengkuh dengan tangan kiri baju-baju yang baru saja
kuentas, tangan kananku menggapai-gapai, mencoba mencari penopang, tetapi yang
ada ternyata hanya bayang-bayangku sendiri. Dengan tenaga seadanya,
tangan kananku meraih dan memegang erat bayang-bayangku sendiri itu yang jatuh
di sebuah pohon pisang. Sementara itu aku menyaksikan beberapa potong seragam
dinasku mengapung di udara. “Hai... kembalilah...kembalilah...kembalilah...”,
pekikku dalam hati, tetapi satu
potong seragam tetap
melayang dan berlalu dari
pandangan. Tak sempat
berlama-lama aku ternganga
dan meratapi kaburnya bajuku, aku
bergegas masuk. Setelah
menghempaskan pakaian-pakaian itu
di dipan, aku segera
beranjak untuk mencoba menemui
kembali perempuan di dalam bingkai berkaca itu. Ah,
ternyata aku gagal mendapatkannya
kembali, karena kaca telah buram terkena
serpihan debu yang
dihempaskan angin tadi.
Kualihkan pandanganku ke luar, menyaksikan
kristal-kristal bening yang
mulai turun dari
langit. Indah sekali. Aku yang
sempat mencibir mega putih, mencaci awan
hitam, dan mencemooh mendung kelabu tak bisa menyembunyikan rasa malu; dan, mana aku rela membiarkan kesempatan untuk menikmati kemewahan
itu berlalu begitu saja. Hidungku tersengat harumnya bau tanah, telingaku
terbuai bunyi merdu percikan air, mataku terkesima oleh penampilan lincahnya; dan
kesegaran yang ia bawa benar-benar membawaku ke suasana yang tak terbeli. “Ah,
dunia....,” bisik hatiku lirih, “mengapa engkau terlalu sibuk berkesah dengan ketiadaan,
sehingga tak sempat engkau rasakan keberadaan yang menghampirimu?” “Istirahatlah berkeluh kesah. Sirnakan
sejenak kegundahanmu bersama gundahku”. Bersama air hujan menjelang sore itu,
aku pun menghanyutkan semua duka akan
melayangnya seragamku dan kegagalan bertemu kembali dengan perempuan di kaca
itu.
Aku memandang
tanah basah. Selama lebih dari 3.120 minggu telah aku saksikan, dengan
air itu para petani membolak-balik tanah basah itu hingga terjelma bulir-bulir
emas yang merangsang. Selama lebih dari
21.543 hari aku saksikan, dari tanah basah inilah jiwa-jiwa bertumbuh,
mulai dari setinggi lututku, lalu menjadi sepahaku, sepinggulku,
sepinggangku, sebahuku, setelingaku, akhirnya selambaianku. Bila hujan usai,
aku akan melihat butir-butir air
tadi akan menyembul lagi hingga
aku mendengar suaranya dan
melihat geliatnya. Seperti yang sudah-sudah, mereka akan menjelajahi ruang
kosongku. Seperti yang sudah-sudah, sebagian dari mereka akan bersandar
kepadaku, bukan untuk membebaniku, tetapi untuk menjilati luka-luka jiwaku dan justru
membuat tubuh rentaku semakin kuat.
Sepeninggal
hujan, masih kudengar bunyi sisa air menetes dari genteng. Aku melangkah ke
luar, melenggang di tengah tanah basah yang pelan-pelan berubah menjadi
permadani hijau bertaburkan kristal bercahaya. Jangan lupa, aku, dan juga kau,
dulu bangkit dari permadani hijau itu. Aku takjub memandang kristal-kristal itu
kemudian yang berangsur-angsur menjadi kecambah. Lalu dari kecambah-kecambah
tadi ada yang menjelma menjadi pohon beringin, pohon kelapa, pohon kacang,
pohon mawar dan rumput ilalang.
Dengan bakiak
yang aku beli di Pasar Legi aku menuju jembatan yang tak jauh dari rumah. Jembatan yang
belum lama dibangun itu terlihat sangat
artistik. Dibangun dengan bambu. Saat
dibangun, banyak yang mempertanyakan kehebatannya, membandingkannya
dengan jembatan besi yang sudah ada di sampingnya. Dari atas
jembatan itu, tak sengaja aku
bertemu kembali dengan perempuan
yang tadi aku jumpai ada di bingkai berkaca. Dia
ada dalam air
sungai di bawahku, berenang
bersama ikan dan kepiting. Aku memasang
kacamataku, dia pun memasang
kacamatanya. Aku menatapnya dalam-dalam. Wajahnya yang tadinya jerawatan berisi keluguan kini sudah berubah seperti kain polka dot berukir
dengan catatan harian kehidupan. “Ya,
akulah penulis yang kau maksud
itu”, katanya. Lega aku
mendengarnya. “Dan bukankah kau adalah pohon bunga kaca piring?”,
lanjutnya. Kali ini aku tersentak. Dia melihatku sebagai sosok pohon bunga kaca
piring di saat aku merasa bahwa aku ini pohon bunga mawar. Burung yang
kebetulan melintas di atas kepalaku tertawa
mendengarnya.
Lamunanku pecah
oleh suara riuh anak-anak.
Di tanah yang becek berair
itu ada lima anak
laki-laki dan tiga perempuan, yang setinggi pinggang dan dadaku. Anak-anak yang segera tumbuh anggun dan perkasa.
Mereka berlompat-lompatan, saling
dorong satu sama lain. Bila ada yang
jatuh, mereka terkekeh. Ah, bahagianya mereka, meski
aku lihat sebagian
dari mereka berkudis.... Ada
juga yang berdeklamasi menantang
langit, “Oh angin....”, seru yang satu.
“Oh bintang...” seru
yang lain. Dua anak laki-laki
terlihat memperebutkan sesuatu dengan kakinya.
Mungkin bola, pikirku. Dari arah
belakang, tiba-tiba seorang anak
perempuan mencoba meraih
benda yang diperebutkan itu, dan
berhasil! Ia tertawa penuh
kemenangan. Ia membawanya
lari benda yang ternyata gulungan kain itu. Ia mengembangkan gulungan itu,
mencoba memancing emosi
kedua temannya tadi. Aku terpana, sambil
berseru, “Ya ampun... itu
‘kan baju seragamku?”
Hatiku
berkecamuk. Itu salah satu memorabiliaku. Baju kebesaran bersejarah
kebanggaanku harus berakhir setragis itu? Aku
maju bermaksud mengutarakan
sebuah kalimat yang ternyata
harus aku ralat sebelum kusampaikan. Aku mencari akal bagaimana supaya aku bisa mendapatkan kembali seragamku itu tanpa
merusak senyum mereka. Aku berhenti sejenak dan dengan lantang
berkata seraya menempelkan tangan
kananku di dada, “Anak-anak, coba Bu
De pinjam benda itu sebentar”. “Benda yang mana, Nek?”,
salah satu dari mereka berkata dengan menyebutku nenek. “Bu De mau
melihat benda yang tadi kau perebutkan”. “Oh, baju bekas ini, Nek?” Ah,
ternyata mereka masih menyebutku
nenek. Aku masih berusaha untuk bernegosiasi agar mereka tidak memanggilku nenek, “Ya,
Bu De ingin melihatnya. Boleh ‘kan?”
sahutku.
Ya, benar. Tanpa
saya amat-amati, itu seragamku yang
kabur sewaktu ada angin kencang tadi. “Itu
milik siapa Nek?” tanya anak
perempuan yang bernama
Fifi itu. “Milik nenek”,
kataku pendek, seraya menyerah membiarkan mereka memanggilku
nenek.
“Itu
‘kan seragam kerja? Nenek ‘kan tidak bekerja? Apa bukti baju
itu milik nenek?”
“Saya temukan baju itu di selokan,
bukan di pekarangan nenek”
Dengan isyarat aku
mengajak mereka datang
ke rumah. Rumah yang menurutku
amat megah, karena dibangun dengan bermutu. Aku mengambil laptop tuaku
yang kubeli lima belas tahun
yang lalu, yang bila kupakai mengetik, huruf
yang dihasilkan meloncat-loncat.
Aku bermaksud menunjukkan foto-fotoku yang
kusimpan rapi di laptop itu.
15 Oktober 2010
neny mariani suhardiyah
15 Oktober 2010
neny mariani suhardiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar